Assalamu'alaikum wr.wb.

Kamis, 06 Oktober 2011

# Perilaku Konsumen

“ EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI KONSUMEN MEMILIH SEPATU “









MIKAIL FIRDAUS
Mahasiswa Program Sarjana Fakultas Ekonomi
Universitas Gunadarma
Jln. Akses Kelapa 2 Cimanggis Depok,
Kampus E Universitas Gunadarma









BAB I 
PENDAHULUAN

i.              Latar Belakang
Sifat manusia yang selalu merasa tidak puas menjadi salah satu faktor mengapa manusia bersifat konsumtif.  Dimana kondisi barang yang tersedia dirasa belum cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam memilih barang yang dikonsumsi, konsumen akan mempertimbangkan berbagai hal untuk mendapatkan barang yang diinginkan, sehingga diperlukan proses pengambilan keputusan oleh konsumen untuk menentukan alternatif barang mana yang akan dia konsumsi. 
Dalam penulisan ini, diambil contoh barangnya yaitu sepatu. Berbagai merk dan model, serta variasi harga dari produk sepatu menjadikan konsumen tertarik dan lebih selektif dalam menentukan sepatu mana yang akan ia beli. Perlunya suatu proses pengambilan keputusan oleh konsumen dengan memperhatikan efektivitas dan efisiensi dalam menentukuan alternatif sepatu yang akan ia beli.
ii.              Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, sehingga dapat dikemukakan suatu perumusan masalah sebagai berikut :
1.    Apa yang menjadikan konsumen bersifat konsumtif ?
2.    Apakah konsumen bersifat selektif ?
3.    Bagaimana pertimbangan konsumen dalam memilih sepatu ?

iii.              Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan yang ingin dicapai yakni sebagai berikut :
1.   Untuk mengetahui kebenaran konsumen yang bersifat konsumtif.
2.     Mengetahui perilaku konsumen yang bersifat selektif.
3.     Serta mengetahui pertimbangan konsumen dalam memilih sepatu.






BAB II
PEMBAHASAN

Dalam Ilmu Ekonomi, yang dimaksud dengan konsumen adalah seseorang atau kelompok orang yang melakukan serangkaian kegiatan  konsumsi barang atau jasa. Pengertian lain tentang konsumen adalah orang atau sesuatu yang membutuhkan, menggunakan dan memanfaatkan barang atau jasa. Konsumen biasa memiliki kebiasaan dan tingkah laku yang berbeda - beda. Perilaku konsumen di daerah pedesaan berbeda kebiasaan dengan konsumen yang ada di perkotaan, tergantung pada faktor ekonomi mereka misalnya jumlah pendapatan mereka.
Adapun pengertian dari perilaku konsumen, yaitu tingkah laku dari konsumen, dimana mereka dapat mengilustrasikan untuk membeli, menggunakan, mengevaluasi dan memperbaiki suatu produk dan jasa yang mereka konsumsi. Fokus dari perilaku konsumen adalah bagaimana individu membuat keputusan untuk mengkonsumsi suatau barang.
Berikut adalah pengertian dari perilaku konsumen dari beberapa ahli yang penulis  pilih secara acak :
            1.        James F Engel
Perilaku konsumen di definisikan tindak-tindakan individu secara langsung terlibata dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang-barang jasa ekonomi termasuk proses pengambilan kepustusan yang mendahuli dan menentukan tindakan-tindakan tersebut.
            2.      David L Loundon
Perilaku konsumen dapat diDefinisikan sebagai proses pengambilan keputusan dan aktivitas individu secara fisik yang dilibatkan dalam mengevaluasi, memperoleh, menggunakan atau dapat mempergunakan barang-barang atau jasa.
            3.      Gerald Zaltman
Perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan, proses dan hubungan sosial yang di lakukan oleh individu, kelompok dan organisasi dan mendapatkan, menggunakan suatu produk atau lainnya sebagai sutu akibat dari pengalaman dengan produk, pelayanan dan sumber-sumber lainya.

Dari beberapa definisi tersebut, maka dapat dirumuskan suatu kesimpulan bahwa definisi perilaku konsumen adalah tindakan - tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok, atau organisasi yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapakan, menggunakan barang - barang atau jasa ekonomi yang dapat di pengaruhi lingkungan.
Dalam ilmu ekonomi, dapat ditemukan istilah yang mengatakan bahwa kepuasan manusia itu tidak akan terpenuhi, atau pernyataan lain yang mengatakan bahwa timbulnya proses konsumsi disebabkan karena kelangkaan akan suatu barang yang akan dikonsumsi. Namun sebagai insan yang berakal, kepuasan manusia bisa saja diredam atau diminimalisir dengan cara pengelompokan pada kebutuhan dan keinginan konsumen. Mana keperluan barang – barang yang sekiranya sebagai kebutuhan, dan mana barang – barang yang merupakan keinginan. Kebutuhan merupakan sesuatu yang harus dipenuhi untuk kelangsungan hidup manusia dan bersifat primer, seperti makan, minum, tempat tinggal, pakaian. Sedangkan keinginan, merupakan hasrat atau dorongan dari diri manusia untuk mengkonsumsi suatu barang karena faktor tertentu dan bersifat sekunder. Misalnya keinginan untuk memiliki rumah mewah, mobil mewah, dan lain sebagainya. Padahal kebutuhan rumah, mobil, dan barang – barang lain tidak perlu harus bernilai tinggi, itu karena faktor tertentu seperti prestise sehingga membuat konsumen merasa berkeinginan untuk memiliki rumah dan mobil yang mewah. Jadi, sebagai konsumen harus pandai – pandai memilah mana yang dirasa sebagai kebutuhan dan mana yang sebagai keinginan.

Dalam mengkonsumsi barang, konsumen perlu memilih dengan cermat kondisi barang tersebut, baik secara fisik maupun secara kualitas. Seperti halnya dalam memilih sepatu. Ada 2 faktor yang mempengaruhi konsumen dalam menentukan pilihannya, yang pertama faktor intern, dan kedua faktor ekstern. Dimana faktor intern berkaitan dengan tingkat efektivitas dan efisiensi yang dipikirkan oleh konsumen sebelum membeli suatu barang. Tingkat efektivitas dan efisiensi sangat perlu untuk diperhatikan. Dimana efektivitas merupakan kemampuan konsumen untuk memilih berbagai alternatif barang yang berguna untuk mencapai kebutuhan / tujuan tertentu (doing the rights thing). Misalnya, seorang model harus mampu menentukan pilihan sepatunya, tidak mungkin dia menentukan pilihan sepatunya pada sepatu bola, pasti dia akan memilih sepatu yang memiliki hak tinggi yang cocok digunakan oleh seorang model dalam menjalankan profesinya. Sedangkan efisiensi merupakan kemampuan untuk melakukan pembelian barang dengan benar, serta menghitung rasio input outputnya (doing things right). Misalnya seorang anak yang tidak memiliki banyak budget untuk membeli sepatu,tidak mungkin dia akan membeli sepatu yang branded atau sepatu dengan harga yang mahal. Pasti dia akan membeli sepatu yang harganya sesuai dengan isi kantongnya. Tingkat efisiensi dalam menentukan pilihan untuk pembelian suatu barang lebih ditekankan pada kemampuan finansial seseorang yang sangat berpengaruh terhadap keputusannya.
Selain itu, faktor ekstern juga berpengaruh cukup besar terhadap keputusan yang akan diambil oleh konsumen, faktor ekstern tersebut antara lain faktor lingkungan, budaya, bahkan faktor cuaca. Faktor lingkungan juga masih terbagi lagi meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah / kampus / kerja, serta lingkungan masyarakat. Misalnya ketika seseorang yang baru lulus sarjana dan diterima di salah satu perusahaan, pasti pilihan sepatu yang akan ia beli harus yang sesuai dengan profesinya. Yaitu yang umum digunakan oleh pekerja kantoran.  
Dalam ilmu manajemen, pengambilan keputusan meliputi proses pemahaman dan perumusan masalah, pengumpulan dan analisa data yang relevan, pengembalian alternatif, evaluasi terhadap alternatif yang digunakan, pemilihan alternatif terbaik, implementasi keputusan, serta evaluasi atas hasil keputusan. Jadi implementasi yang telah diambil harus selalu dipantau terus – menerus, apakah keputusan memilih suatu barang tersebut memberikan kepuasan atau hasil yang diharapkan.
Keputusan juga dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan situasi, yaitu kepastian (certainty) dimana suatu keadaan yang akan terjadi di waktu mendatang dapat diketahui sebelumnya karena tersedianya akses informasi yang akurat dan responsibiliti. Kemudian resiko (risk) yaitu dengan diketahuinya kesempatan atau probabilitas setiap kemungkinan yang akan terjadi serta hasilnya. Dan yang terakhir ketidak pastian (uncertainty), dimana konsumen tidak mengetahui probabilitas yang dimiliki serta tidak diketahuinya situasi yang akan terjadi diwaktu mendatang karena tidak mempunyai informasi yang dibutuhkan. Jadi dalam membuat keputusan untuk memilih suatu barang yang akan dibeli harus memperhatikan beberapa aspek dalam pengambilan keputusan agar tidak ada rasa penyesalan dikemudian hari.



BAB III
PENUTUP


-)   KESIMPULAN
Pada dasarnya sifat manusia adalah konsumtif karena tidak semua kebutuhannya dapat terpenuhi. Sehingga timbul rasa keinginan untuk mengkonsumsi suatu barang demi memenuhi kebutuhannya. Misalnya diambil contoh seseorang yang akan membeli produk sepatu. Dalam menentukan pilihan sepatunya, konsumen juga selektif tidak asal pilih. Konsumen juga mempertimbangkan berbagai hal untuk menentukan pilihan barang tersebut, pertimbanganya bisa diambil dari dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern dari konsumen. Faktor intern meliputi selera konsumen, budget (anggaran), dan tingkat kebutuhan. Sedangkan faktor ekstern dari konsumen meliputi lingkungan dimana ia tinggal / bekerja, informasi dari orang lain / media, cuaca, dan mode.

-)   SARAN
                  Penulisan mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. 








DAFTAR PUSTAKA

Mukhyi, Muhammad Abdul dan Iman Hadi Saputro. “Pengantar Manajemen Umum”. Penerbit Universitas Gunadarma : 1995.

Handoko, T.Hani. “Manajemen”. BPFE Yogyakarta : 1986.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar